Senin, 13 Maret 2023

ASUMSI RASIONALITAS DALAM EKONOMI ISLAMI

RASIONALITAS DALAM EKONOMI ISLAMI
Yang dimaksud dengan asumsi rasionalitas adalah anggapan bahwa manusia berperilaku secara rasional (masuk akal), dan tidak akan secara sengaja membuat keputusan yang akan menjadikan mereka lebih buruk.
Perilaku rasional mempunyai dua makna, yaitu: metode dan hasil. Dalam makna metode, perilaku rasional berarti "action selected on the basis of reasoned thought rather than out of habit, prejudice, or emotion (tindakan yang dipilih berdasarkan pikiran yang beralasan, bukan berdasarkan kebiasaan, prasangka, atau emosi)." Sedangkan dalam makna hasil, perilaku rasional berarti "action that actually succeeds in achieving desired goals (tindakan yang benar-benar dapat mencapai tujuan yang dingin dicapai)."
A. Ketepatan Menjelaskan Asumsi Rasionalitas.
Jenis Rasionalitas Ada dua jenis rasionalitas, yakni:
a. Self interest rationality (Rasionalitas Kepentingan Pribadi) Prinsip pertama dalam ilmu ekonomi menurut Edgeworth, adalah bahwa setiap pihak digerakkan hanya oleh self interest. Hal ini mungkin saja benar pada masa-masa Edgeworth, tetapi salah satu pencapaian dari teori utilitas modern adala pembebasan ilmu ekonomi dari prinsip pertama yang meragukan tersebut. 
Definisi Self Interest
Self interest tidak harus selalu berarti memperbanyak kekayaan seseorang dalam satuan rupiah tertentu. Kita berasumsi bahwa individu mengejar berbagai tujuan bukan hanya memperbanyak kekayaan secara moneter. Dengan demikian, self interest sekurang-kurangnya mencakup tujuan-tujuan yang berhubungan denga prestise, persahabatan, cinta, kekuasaan, menolong sesama, penciptaan karya s dan banyak lagi. Kita dapat juga mempertimbangkan self interest yang tercerahkan di mana individu-individu dalam rangka untuk mencapai sesuatu yang menjadikan mereka lebih baik, pada saat yang sama membuat orang-orang di sekelilingnya menjadi lebih baik pula."
b. Present-aim rationality
Teori utilitas modern yang aksiomatis tidak berasumsi bahwa manusia bersikap mementingkan kepentingan pribadinya (interested). Teori ini hanya berasumsi bahwa manusia menyesuaikan preferensinya dengan sejumlah aksioma: secara kasarnya preferensi-preferensi tersebut harus konsisten. Individu-individu menyesuaikan dirinya dengan aksioma-aksioma ini tanpa harus menjadi self interested.

B. Ketepatan Menjelaskan Aksioma-Aksioma Pilihan Rasional.
Terdapat tiga sifat dasar
1. Kelengkapan (Completeness)
Jika individu dihadapkan pada dua situasi, A dan B, maka ia dapat selalu menentukan secara pasti salah satu dari tiga kemungkinan berikut ini:
a. A lebih disukai daripada 
b. B Blebih disukai daripada A
c. A dan B keduanya sama-sama disukai.
2. Transitivitas (Transitivity)
Jika bagi seseorang "A lebih disukai daripada B" dan "B lebih disukai daripada C," maka baginya "A harus lebih disukai daripada C. Asumsi ini menyatakan bahwa pilihan individu bersifat konsisten secara internal.
3. Kontinuitas (Continuity)
Jika bagi seseorang "A lebih disukai daripada B," maka situasi-situasi yang secara cocok "mendekati A," harus juga lebih disukai daripada B.

C. Ketepatan Menjelaskan Asumsi-Asumsi Lainnya Tentang Preferensi.
1. Kemonotonan yang Kuat (Strong Monotonicity)
Bahwa lebih banyak berarti lebih baik. Biasanya kita tidak memerlukan asumsi sekuat ini. Asumsi ini dapat diganti dengan yang lebih lemah yakni Local Nensatiation.
2. Local Nonsatiation
Asumsi ini menyatakan bahwa seseorang dapat selalu berbuat lebih baik, sekecil apa pun, bahkan bila ia hanya menikmati sedikit perubahan saja dalam "keranjang konsumsinya."
3. Konveksitas Ketat (Strict Convexity) Asumsi ini menyatakan bahwa seseorang lebih menyukai yang rata-rata dari pada yang ekstrim, tapi selain dari pada makna ini, asumsi ini memiliki muatan ekonomis yang kecil. Strict convexity merupakan generalisasi dari asumsi neoklasik tentang "diminishing marginal rates of substitution."
D. Ketepatan Menjelaskan Perspektif Islam Tentang Asumsi Rasionalitas.
1. Perluasan Konsep Rasionalitas (untuk Transitivitas)
Pertama, kita berpendapat bahwa self interest rationality yang diperkenalkan oleh Edgeworth adalah konsep yang lebih baik dalam artian kita berasumsi bahwa individu mengejar banyak tujuan, bukan hanya memperbanyak kekayaan secara moneter. Sayangnya konsep ini terlalu longgar sehingga tindakan apa pun dari seseorang dapat dijustifikasi sebagai rasional hanya karena ia mengklaim bahwa tindakannya didorong oleh self interest-nya.
Kedua, kita berpendapat bahwa teori modem tentang rasional tidak disepakati secara universal. Versi yang berbeda memiliki aksioma yang berbeda. Tetapi kesemuanya sekurang-kurangnya menyepakati aksioma transitivitas. Transitivitas adalah syarat minimal konsistensi; jika konsistensi tidak mensyaratkan transitivitas, maka sesungguhnya ia tidak mensyaratkan apa pun. Sebenarnya tidak semua aksioma teori keputusan rasional merupakan syarat dari konsistensi. Contohnya, salah satu aksioma adalah kelengkapan: terhadap pasangan alternatif apa pun dari A dan B, kita dapat memilih A daripada B, B daripada A, atau sama saja antara A dan B. Hal ini tidak dipersyaratkan oleh konsistensi.
Dalam nilai Islam terdapat dua cara untuk mendistribusikan pendapatan luran wajib (zakat), dan iuran sukarela (infaq). Dalam kebanyakan kasus, sektor sukarela tidak dapat secara mutlak dijelaskan bahwa tindakan sukarela ini memenuhi persyaratan transitivitas.

Oleh: Zahratul Zahwa 2130402115

MEMAHAMI EFISIENSI ALOKASI DAN DISTRIBUSI PENDAPATAN

A. Pertukaran dan Keseimbangan Konsumsi antar Individu Definisi dari pertukaran dalam ekonomi adalah suatu proses saling memberi dan di beri...