Jumat, 17 Maret 2023

Memahami Arti Manfaat/Kegunaan/Utilitas Barang Yang di Konsumsi

Kesejahteraan hidup manusia bisa tercapai saat kebutuhan atau keinginan terpenuhi. Kebutuhan merupakan cerminan perasaan atau persepsi rasa tidak puas atau rasa kekurangan yanga ada dalam diri manusia yang ingin dipenuhi agar meraih kepuasan. Kegiatan ekonomi yang penting salah satunya adalah konsumsi. Kegiatan produksi, konsumsi dan distribusi merupakan satu kesatuan yang saling berkaitan dan ketiganya tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya.Kegiatan produksi ada karena yang mengkonsumsi,kegiatan konsumsi ada karena ada yang memproduksidan kegiatan distribusi muncul karena ada gap antara konsumsi dan produksi. 
Konsep Islam Tentang Kebutuhan.
Pandangan ekonomi konvensional atau kapitalisme tentang kebutuhan atau keinginan merupakan segala sesuatu yang diperlukan manusia dalam rangka menyejahterakan hidupnya. Kebutuhan mencerminkan adanya perasaan ketidakpuasan atau kekurangan dalam diri manusia yang ingin dipuaskan. Orang membutuhkan sesuatu karena tanpa sesuatu itu ia merasa ada yang kurang dalam dirinya. 
Menurut Imam al-Ghazali kebutuhan adalah keinginan manusia untuk mendapatkan sesuatu yang diperlukan dalam rangka mempertahankan kelangsungan hidupnya dan menjalankan fungsinya yaitu menjalankan tugasnya sebagai hamba Allah dengan beribadah secara maksimal. Karena ibadah kepada Allah adalah wajib, maka berusaha untuk memenuhi kebutuhan agar kewajiban itu terlaksana dengan baik, hukumnya menjadi wajib juga,sebagaimana kaidah yang berlaku.
Menurut Islam, yaitu senantiasa mengaitkannya dengan tujuan utama manusia diciptakan yaitu ibadah. Untuk memenuhi kebutuhan ini, maka Allah menghiasi manusia dengan hawa nafsu (syahwat), dengan adanya hawa nafsu ini maka muncullah keinginan dalam diri manusia. Menurut al-Syathibi, rumusan kebutuhan manusia dalam Islam terdiri dari tiga macam, yaitu dharuriyat, hajiyat, dan tahsiniyat.

1.Dharuriyat (primer) 
Dharuriyat (primer) adalah kebutuhan paling utama dan paling penting. Kebutuhan ini harus terpenuhi agar manusia dapat hidup layak. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi hidup manusia akan terancam didunia maupun akhirat. Kebutuhan ini meliputi, khifdu din(menjaga agama), khifdu nafs (menjaga kehidupan), khifdu ‘aql (menjaga akal), khifdu nasl (menjaga keturunan), dan khifdu mal (menjaga harta). Untuk menjaga kelima unsur tersebut maka syariat Islam diturunkan. Sesuai dengan firman Allah SWT, dalam QS. Al Baqarah:179 dan 193. 
Oleh sebab itu tujuan yang bersifat dharuri adalah tujuan utama untuk pencapaiaan kehidupan yang abadi bagi manusia Lima kebutuhan dharuriyah tersebut harus dapat terpenuhi, apabila salah satu kebutuhan tersebut diabaikan akan terjadi ketimpangan atau mengancam keselamatan umat manusia baik didunia maupun diakhirat kelak. Manusia akan hidup bahagia apabila ke lima unsur tersebut dapat dilaksanakan dengan baik. 
2.Hajiyat (sekunder)
Hajiyat (sekunder)Kebutuhan hajiyat adalah kebutuhan sekunder atau kebutuhan setelah kebutuhan dharuriyat. Apabila kebutuhan hajiyat tidak terpenuhi tidak akan mengancam keselamatan kehidupan umat manusia, namun manusia tersebut akan mengalami kesulitan dalam melakukan suatu kegiatan. Kebutuhan ini merupakan penguat dari kebutuhan dharuriyat.Maksudnya untuk memudahkan kehidupan, menghilangkan kesulitan atau menjadikan pemeliharaan yang lebih baik terhadap lima unsur pokok kehidupan manusia. Apabila kebutuhan tersebut tidak terwujudkan, tidak akan mengancam keselamatannya, namun akan  mengalami kesulitan. Pada dasarnya jenjang hajiyat ini  merupakan pelengkap yang mengokohkan, menguatkan, dan melindungi jenjang dharuriyat.
3.Tahsiniyat (Tersier)
Kebutuhan tahsiniyah adalah kebutuhan yang tidak mengancam kelima hal pokok yaitu khifdu din (menjaga agama), khifdu nafs (menjaga kehidupan), khifdu aql (menjaga akal), khifdu nasl (menjaga keturunan), serta khifdu maal (menjaga harta) serta tidak menimbulkan kesulitan umat manusia. Kebutuhan ini muncul setelah kebutuhan dharuriyah dan kebutuhan hajiyat terpenuhi, kebutuhan ini merupakan kebutuhan pelengkap.

Ketetapan Membandingkan Maslahah VS Utilitas.
Menurut Mufllih, ada dua bentuk konsep berfikir konsumen dalam peranan ilmu ekonomi yaitu utility atau utilitas dan maslahah. Secara bahasa, utility berarti berguna (usefulness), membantu (helpness) atau menguntungkan (advantage).
Dalam konteks ekonomi, utilitas diartikan sebagai kegunaan barang yang dirasakan oleh seorang konsumen dalam mengkonsumsi suatu barang. Kegunaan ini bisa dirasakan sebagai rasa “tertolong” dari kesulitan karena mengkonsumsi suatu barang. Karena rasa inilah utilitas sering diartikan juga sebagai kepuasan yang dirasakan oleh seorang konsumen. Dengan demikian, kepuasan dan utilitas dianggap sama, meskipun sebenarnya kepuasan adalah akibat yang
ditimbulkan oleh utilitas.Perbedaan Maslahah dan Utility:
a) Konsep maslahah dikorelasikan dengan kebutuhan (need), sedangkan kepuasan (utility) dikorelasikan dengan keinginan (want).
b) Utility atau kepuasan bersifat individualistis, maslahah tidak hanya bisa dirasakan oleh individu tetapi bisa dirasakan pula oleh orang lain atau sekelompok orang lain atau masyarakat.
c) Maslahah relatif lebih obyektif karena didasarkan pada pertimbangan yang obyektif (kriteria tentang halal atau baik) sehingga suatu benda ekonomi dapat diputuskan apakah memiliki maslahah atau tidak. Sementara utilitas mendasarkan pada kriteria yang lebih subyektif, karenanya dapat berbeda antara individu satu dengan lainnya.
d) Maslahah individu relatif konsisten dengan maslahah sosial. Sebaliknya, utilitas individu sering berseberangan dengan utilitas sosial.
e) Jika maslahah dijadikan tujuan dari seluruh pelakuekonomi (konsumen, produsen, dan distributor), maka semua aktivitas ekonomi masyarakat baik konsumsi, produksi, dan distribusi akan mencapai tujuan yang sama, yaitu kesejahteraan. Hal ini berbeda dengan utility dalam ekonomimonvensional, konsumen mengukurnya dari kepuasan yang diperoleh konsumen dan keuntungan yang maksimal bagi produsen dan distributor, sehingga berbeda tujuan yang akan dicapainya.
f) Dalam konteks perilaku monsumen, utility diartikan sebagai konsep kepuasan konsumen dalam mengkonsumsi barang atau jasa, sedangkan maslahah diartikan sebagai konsep pemetaan perilaku konsumen berdasarkan asas kebutuhan dan  prioritas.

Ketepatan Menjelaskan Pengalokasian Sumber Untuk Memenuhi Kebutuhan.
Tujuan hidup setiap manusia pada dasarnya adalah untuk mencapai kesejahteraan meskipun manusia memaknai kesejahtraan dengan persepektif yang berbeda. Sebagian besar  aham ekonomi memaknai kesejahteraan materi semata. 
Dalam upaya mencapaikesejahteraan manusia menghadapi masalah, yaitu kesenjangan antara sumber daya yang ada dengan kebutuhan manusia. Allah menciptakan alam semesta ini dengan berbagai sumber daya yang memadai untuk mencukupi kebutuhan manusia. 
Upaya mencapai kesejahteraan manusia terbentur dengan masalah, yaitu kesenjangan antara sumberdaya yang ada dengan kebutuhan manusia. Allah menciptakan alam semesta ini dengan berbagai sumberdaya yang memadai untuk mencukupi kebutuhan manusia. Keterbatasan manusia, serta munculnya konflik anara tujuan duniawi dan ukrawi menyebabkan terjadinya kelangkaan relative. 
Teori ekonomi mikro berusaha untuk menjelaskan apakah masalah kelangkaan dan alokasi sumber daya yang telah ditentukan yang efisien. Ekonomi efisiensi melibatkan efisiensi dalam konsumsi, efisiensi dalam produksi dan distribusi dan atas segala efisiensi ekonomi.
Ekonom Islam mazhab mainstream menggunakan definisi efisiensi yang sama dengan definisi ekonomi neoklasik, di mana persoalan efisiensi diwujudkan sebagai masalah optimasi. Pada perilaku konsumen tunggal, efisiensi dicapai dengan mengalokasikan anggaran tertentu pada kombinasi barang dan jasa yang memaksimumkan kegunaan konsumen. 
Al-Ghazali mengidentifikasi tiga alasan mengapa seseorang harus melakukan aktivitas-aktivitas ekonomi, yaitu: 
(1) mencukupi kebutuhan yang bersangkutan, 
(2) mensejahterakan keluarga dan
(3) membantu orang lain yang membutuhkan.
 Dari ketiga poin tersebut bahwa seseorang berusaha mengumpulakan sumber dananya untuk memenuhi tingkat subtensi sempurna. Namun demikian, bukan bersadar pada keserakahan dan pemgejaran nafsu yang akan merugikan.

Ketepatan Menjelaskan Konsep Pemilihan Dalam Kebutuhan.
Pada dasarnya konsumsi muslim tidak dapat dipisahkan dari peranan keimanan. Keimanan sangat mempengaruhi sifat, kuantitas, dan kualitas konsumsi baik dalam bentuk kepuasan materi maupun spiritual. Upaya tersebut meningkatkan keseimbangan antara orientasi duniawi dan ukhrawi. Keimanan memberikan sarinagan moral dalam membelanjakan harta dan juga memotivasi pemanfaatan pendapatan untuk hal-hal yang efektif. Dalam presepsi ini bertujuan untuk menjadi preferensi yang serasi antara individual dan social, serta dalam rangka mewujudkan kebaikan dan kemanfaatan.
Menurut Masyhuri dalam bukunya Teori Ekonomi Islam, tujuan dari sistem ekonomi pada prinsipnya ditentukam oleh pandangan masyarakat pendukungnya
tentang dunia. Jika manusia berpandang bahwa alamini alam ini terbentuk dengan sendirinya,maka mereka tidak akan bertanggung jawab atas siapapun,dan mereka akan bebas hidup sesukanya. Tujuan hidup mereka untuk mencapai kepuasan maksimum dan tidak mempengaruhi kepentingan orang lain. Sebaliknya, jika yang dimiliki di dunia ini milik Allah. Maka mereka harus bertanggung jawab atas ciptaan Nya.
Konsumsi dalam Islam yang dimaksud ialah manusia tidak boleh berlebih- lebihkan dalam membelajakan harta dan tidak berfoya-foya, karena sesungguhnya yang ada di dunia ini hanya milik Allah Swt. Di dalam mengkonsumsi suatu barang, manusia harus bisa memprioritaskan sesuatu barang yang lebih bermanfaat dalam pemenuhannya. Untuk melaksanakan hal tersebut, manusia perlu adanya etika dan norma dalam konsumsi islami yang bersumber pada Al-Qur‟an dan Sunnah.

Ketepatan Menunjukkan Asma Al Husna Pada Materi.
Meneladani Asmaul Husna akan memberikan dampak positif kepada hidup dan mengarahkan umat Muslim ke jalan yang benar. Selain itu, jika nama dan sifat Allah yang baik diteladani, iman seorang Muslim akan semakin kuat dan selalu diberi kesabaran ketika menghadapi masalah.





Oleh: YUSMITA (2130402114) EKSYA 4C

MEMAHAMI EFISIENSI ALOKASI DAN DISTRIBUSI PENDAPATAN

A. Pertukaran dan Keseimbangan Konsumsi antar Individu Definisi dari pertukaran dalam ekonomi adalah suatu proses saling memberi dan di beri...